Senin, 21 Oktober 2013

SARJANAKU UNTUK PEMIMPIN KECILKU





Mendengar kata sarjana menimbulkan berbagai penafsiran di pikiran orang. Terlebih, jika mereka mengetahui jurusan apa yang kupilih di bangku kuliah. Perdebatan hebat antara aku dan orang-orang dekatku kala itu akhirnya diputuskan dengan kompromi. Pilihan pertama UMPTN sesuai keinginan ibu (kedokteran) sedangkan pilihan kedua pilihanku sendiri (Biologi). Deal, begitu pikirku.
Setiap mendengar kata “Biologi” orang-orang begitu sinis padaku. Mau bekerja apa, bekerja di mana, dan sebagainya adalah pertanyaan yang menjadi makanan sehari-hari bagiku. Hingga akhirnya aku benar-benar lolos untuk pilihan kedua, suara-suara sumbang itu masih saja terdengar.
Sebagai seorang biologist saya belajar banyak. Memang di sini saya bukan dokter, tetapi saya belajar mengenai cara-cara untuk hidup sehat. Bagaimana cara menjaga kesehatan, mencegah penyakit, meningkatkan daya tahan tubuh, dan sebagainya. Hal yang seakan sepele ini bisa saya terapkan pada diri dan keluarga, serta keluarga yang akan saya bentuk nantinya. Saat ini sudah berusaha saya ajarkan sedikit demi sedikit pada murid dan juga keluarga, berhubung saya belum menikah.
Berlanjut pada pasangan hidup. Gen dari seorang anak dipengaruhi oleh gen dari orang tuanya. Maka dari itu pemilihan pasangan hidup yang tepat sangat penting. Akhlak dan karakternya harus baik, begitu pula agamanya dan ilmunya. Kemudian kami akan sejalan dalam mendidik buah hati kami nantinya. Setelah saya menikahi pria tersebut dan (Insyaa Allah) hamil maka akan ada periode-periode emas dalam mendidik anak, bahkan sejak dalam kandungan. Waktu-waktu tersebut akan saya optimalkan, kami akan mendidik sesuai periode emas itu dan mendukung pertumbuhan dan perkembangannya dengan makanan yang sehat dan bergizi. ASI akan menjadi prioritas saya, di mana dengan menyusui maka akan terjalin kedekatan yang erat antara ibu dengan bayinya. Tak hanya itu, ibu dan bayi akan lebih sehat, daya tahan tubuh bayi meningkat, dan menjadi anak yang cerdas. Sampai dewasa pun saya akan coba membiasakan dia dengan makanan-makanan yang sehat dan bergizi dan menghindarkannya dari hal-hal yang merusak tubuh (baik kebiasaan, gaya hidup, pola pikir, dan sebagainya). Ini sangat penting bagi seorang pemimpin.
Di dalam keseharian kami akan mengajarkan agama dan akhlak melalui keteladanan. Sudah agak lama saya membiasakan diri bertutur kata positif / dalam bentuk positif agar pesan itu bisa lebih diterima otak lawan bicara. Nantinya, ananda pun sedikit banyak akan belajar tentangnya. Sebagai seorang pemimpin, tak sepatutnya berkata-kata kasar / buruk.
Saya akan ajarkan tentang alam, menanam tumbuhan, menghemat sumber daya, menjaga kebersihan, dan hal-hal yang seakan sepele tapi akan tertanam kuat dalam diri pemimpin kecilku nantinya. Di kala dewasa, dia akan menjadi pemelihara alam, bukan sebaliknya.
Begitu pentingnya ilmu bagi seorang pemimpin, maka saya pun akan membekalinya dengan ilmu yang bermanfaat. Ada waktu-waktu emas pula dalam menuntut ilmu serta bagaimana cara belajar yang mudah dan menyenangkan. Dengan mengetahui hal itu, anak akan semakin mudah memahami ilmu. Biasanya setiap anak mempunyai potensi yang menonjol, itu salah satu sasaran saya. Lainnya, saya tetap akan mengajarkan tentang kepedulian sosial dan ilmu-ilmu lain agar wawasannya kaya.
Mengenai perilaku anak tak lepas dari lingkungan. Oleh sebab itu pilihkan lingkungan yang baik untuk anak. Pemilihan rumah, sekolah, teman bermain, dan sebagainya plus didukung ilmu agama yang baik, Insyaa Allah anak akan menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Tambahan lagi, rizkinya berusaha mencari yang halal-halal saja. Rizki haram bisa menjadikan anak nakal / susah diatur, atau hal-hal buruk lain.
Ini semua belum tentu diketahui oleh ibu yang kurang berpendidikan / belum sarjana. Mengenai pilihan hidup setelah menikah, baik bekerja atau menjadi ibu rumah tangga pendidikan sang ibu tetaplah penting untuk diajarkan (dan diterapkan) pada buah hatinya. Jadi, sejak sarjana, menikah, hamil, dan membesarkan anak Insyaa Allah ilmu biologi saya itu akan terpakai terus. Bermanfaat bukan kuliahnya? Sarjanaku tak hanya untuk diriku, tetapi untuk keluargaku dan pemimpin kecilku juga. Insyaa Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar