Selasa, 17 November 2015

PMI MENDUKUNG INDONESIA BEBAS HIV/AIDS DAN NARKOBA



Ancaman HIV/AIDS dan Narkoba di Indonesia


Pada tahun 2012 lalu Indonesia merupakan salah satu negara pengidap HIV terbesar di Asia, bersama India, Thailand, Myanmar, dan Nepal. Tak hanya itu, penularannya di sini pun menjadi yang tercepat di Asia dikarenakan rendahnya pengetahuan masyarakat terkait akan penyakit tersebut. Jumlah kasusnya terus bertambah. Hingga akhir tahun 2014 tercatat ada sebanyak 150.762 orang penderita HIV dan 55.260 orang penderita AIDS. 
Di antara berbagai tempat di Indonesia Bali merupakan salah satu yang rawan akan penyakit HIV/AIDS. Kondisinya sebagai tujuan wisatawan asing membuat masyarakat di sana banyak mendapat pengaruh dari luar. Kasus HIV/AIDS begitu marak di tahun 2015 ini sehingga PMI Bali beserta dengan Hongkong Red Cross dan PMI pusat harus bertindak untuk menekan kasus itu di sana. Selain Bali, ada juga Tarakan. Sebagai kota transit penularan HIV/AIDS sering terjadi di kota ini. Di tahun 2014 saja jumlah penderita HIV/AIDS di sana meningkat 100% dibanding tahun sebelumnya, padahal biasanya penderita HIV/AIDS itu malu untuk memeriksakan diri sehingga jumlah yang sebenarnya bisa saja jauh lebih banyak. Belum lagi dengan adanya penderita yang mungkin tidak sadar bahwa dirinya terkena penyakit tersebut. Jadi, jumlah penderita yang tercatat bisa jauh di bawah jumlah yang sebenarnya. 


Senada dengan HIV/AIDS, angka pengguna narkoba pun meningkat. Bahkan, Indonesia kini sedang dalam kondisi darurat narkoba. Setiap tahun sekitar 18.000 orang meninggal karenanya. Angka tersebut belum termasuk 4,2 juta pengguna yang direhabilitasi dan 1,2 juta yang tidak dapat direhabilitasi. Dengan jumlah sebanyak itu kerugian materi yang ditimbulkan diperkirakan mencapai sekitar Rp. 63 triliun yang berasal dari biaya belanja narkoba, rehabilitasi, perkiraan harga barang-barang yang dicuri dan biaya operasional.


Hubungan antara HIV/AIDS, Narkoba, dan PMI

 Narkoba

Virus HIV/AIDS tidak hanya mengancam orang yang berisiko tinggi seperti para WTS (Wanita Tuna Susila), tetapi juga pengguna narkoba. Bahkan, hampir 50% dari pengguna NAPZA suntik mengidap HIV. Lebih dari itu, ternyata pengidap HIV/AIDS tidak selalu bukan orang baik-baik. Seorang istri juga bisa tertular dari suaminya yang mengidap HIV/AIDS, seorang bayi pun bisa tertular dari ibunya, atau bisa juga pasien tertular dari jarum suntik yang tidak steril, dan sebagainya.


PMI sering tak sengaja menemukan penderita penyakit atau pengguna narkoba

Semuanya berawal dari darah. Penularan penyakit HIV/AIDS yang bisa melalui darah serta berubahnya komponen darah akibat masuknya zat asing berupa bibit penyakit atau narkoba membuat PMI berhubungan erat dengan keduanya, HIV/AIDS dan narkoba. 

Tidak semua darah yang didonorkan itu baik dan bebas penyakit atau narkoba. Namun, sebelum memberikannya kepada pasien PMI akan memastikan bahwa darah tersebut cocok dan aman bagi mereka. Untuk itu darah tersebut harus diproses terlebih dahulu mulai dari proses pengambilan darah, analisis skrining, pemisahan komponen darah, penyimpanan, dan pendistribusian; serta lulus serangkaian uji. Di antara uji yang dilakukan bisa berupa Elissa, Voluntary Counseling Test (VCT), tes pack oncoprobe, atau lainnya. Selain itu, prosedur resmi mengharuskan mereka untuk menggunakan kantong darah serta jarum suntik yang baru dan steril untuk menghindari virus HIV. Pendeknya, proses di PMI sangat ketat dan sudah sesuai dengan standar WHO sehingga pasien tidak perlu khawatir terhadap keamanan dari darah yang didonorkan. Banyaknya isu yang menyebutkan bahwa transfusi darah berisiko membuat pendonor/resipien tertular penyakit-penyakit tertentu bisa merugikan PMI. Masyarakat jadi was-was untuk mendonor atau menerima darah dari PMI, padahal PMI membutuhkan banyak stok darah agar lebih banyak nyawa yang dapat tertolong.


Donor darah

Darah yang tidak lolos uji tidak akan ditransfusikan kepada pasien, melainkan akan dimusnahkan. Di antara penyebab darah tidak lolos adalah karena terdapatnya bibit penyakit di dalam darah tersebut misalnya HIV/AIDS, sipilis, atau hepatitis B dan C, atau bisa juga didapati bahwa darah mengandung narkoba. Jika didapati virus pada darah tersebut maka pendonor akan dipanggil untuk konsultasi dan diperiksa, serta diarahkan untuk melakukan konseling ke klinik VCT (Voluntary Counseling Test), kemudian temuan itu akan dilaporkan ke Dinas Kesehatan untuk ditindaklanjuti.

Eratnya hubungan antara PMI dan narkoba membuat PMI dan BNN sering bekerja di dalam menyelenggarakan kegiatannya. Misalnya kerja sama antara BNN Kota Prabumulih dengan PMI pada peringatan Hari Narkotika Internasional (HANI) tahun 2015 yang berupa kegiatan donor darah.

Selain bekerja sama dengan BNN, untuk mengatasi HIV/AIDS dan narkoba PMI menerapkan tiga pendekatan, yaitu:
1.    Pencegahan, perawatan dan dukungan terhadap Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA)
Contoh:
·      Mengedukasi masyarakat secara dini khusunya generasi muda agar tidak menggunakan obat-obatan terlarang atau melakukan seks bebas.
·      Mengadakan program Pendidikan Remaja Sebaya (PRS) dan Pendidikan wanita Sebaya (PWS).
·      Screening darah terhadap HIV/AIDS.
·      Pendistribusian KIE untuk kelompok rentan sasaran program
·      Rujukan untuk Konseling dan Tes Sukarela/ Volunteer Counselling and Testing (VCT)
·      Pelatihan untuk merawat penderita di rumah.
·      Lomba fasilitator HIV/AIDS.

2.    Anti stigma dan diskriminasi terhadap ODHA
Penerimaan orang sekitar terhadap penderita ODHA sangat penting bagi mereka. Sayangnya, hampir 90% ODHA disingkirkan oleh keluarganya sendiri dan tidak diterima di Rumah Sakit (RS). Akibatnya kematian bisa lebih cepat datang karena perasaan tertekan, depresi, dan tidak diterima yang dialami oleh penderita tersebut.
PMI berusaha mencegah terjadinya hal itu dengan cara melakukan pendekatan anti stigma dan diskriminasi, contohnya sebagai berikut:
·      Memastikan bahwa PMI memiliki kebijakan HIV lingkungan kerja dan program HIV untuk semua staf dan relawan
·      Mengintegrasikan isu kesetaraan gender dan kekerasan seksual berbasis gender dalam program / kegiatan PMI

3.    Berupaya melibatkan ODHA pada tiap tahapan kegiatan.


Ulasan singkat tentang PMI


  Orang sering mengenal PMI berhubungan dengan donor darah. Walau donor darah memang berada di bawah PMI, akan tetapi sebenarnya kegiatan PMI bukan cuma itu. Kegiatannya banyak, misalnya penyediaan ambulans, penyediaan Air bersih serta Sanitasi, penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS, operasi katarak, pemulihan bencana, dan lain-lain. Sesuai dengan definisinya bahwa Palang Merah Nasional (PMI) adalah sebuah organisasi perhimpunan nasional di Indonesia yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan. Organisasi yang dibentuk tanggal 17 September 1945 ini berpegang teguh kepada 7 prinsip yaitu kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan dan kesemestaan. 

Selain lingkup kegiatannya yang banyak, organisasi ini juga membantu hingga lintas negara, tanpa memandang suku, agama, ras, dan sebagainya.

Tingginya kasus HIV/AIDS dan narkoba di Indonesia sungguh merupakan masalah yang serius. Apa jadinya negara ini jika masyarakatnya banyak yang rusak akibat narkoba? Juga dengan munculnya pengeluaran yang begitu besar akibat narkoba, tentu tidak baik bagi kondisi keuangan negara. Di sini peran serta seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan, begitupun PMI. PMI ikut mendukung Indonesia bebas dari HIV/AIDS dan narkoba sesuai dengan batas lingkup kerja mereka.

Sekarang sudah tahu bukan tentang tentang kegiatan-kegiatan PMI? Ayo peduli bantu sesama! Di bulan dana PMI 2015/2016 ini mari ikut membantu misi kemanusiaan dari organisasi tersebut. Jika tak bisa berupa tenaga, bisa juga berupa uang atau lainnya. 



Donasi bisa disalurkan melalui bank-bank berikut ini:
·       Bank BCA
Kantor Cabang Utama Thamrin
Nomor Rekening : 206-38-1794-5
Atas nama PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta.

·       Bank MANDIRI
Kantor Cabang Kramat Raya
Nomor Rekening : 123-00-17091945
Atas nama PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta.

·       Bank DKI
Kantor Cabang Utama Juanda
Nomor Rekening : 101-03-17094-7
Atas nama PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jkarta.

Bangsa ini adalah bangsa yang satu. Jika runtuh karena HIV/AIDS, narkoba, atau lainnya kita juga yang akan kena imbasnya. Kita ikut merasakan akibat buruknya. Oleh karena itu, mari kita tingkatkan solidaritas kepada sesama. Kepedulian kita sangat berarti bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan. Jangan ragu lagi, segera salurkan bantuan Anda melalui PMI! Insya Allah akan membawa banyak manfaat.

Mari sukseskan bulan dana PMI 2015/2016!

http://citizen6.liputan6.com/read/2356908/yuk-ikut-lomba-blog-bulan-dana-pmi-berhadiah-total-rp-15-juta


Sumber:

Senin, 19 Oktober 2015

Kepedulian Konsumen dan Harga Sebuah Kehidupan




Sadar atau tidak terkadang kita ternyata ikut andil di dalam bencana-bencana yang terjadi di sekitar kita dan yang terjadi pada saudara-saudara kita. Di dalamnya termasuk pula peristiwa kebakaran hutan yang baru-baru ini terjadi di Sumsel, Jambi, dan Kalteng. Ada 40 juta jiwa orang yang menjadi korban paparan asap dan 9 orang meninggal dunia akibat asap dari hutan yang terbakar (Data BNPB). Bencana tersebut menyebabkan tingkat kehidupan masyarakat menurun drastis, tidak ada penerbangan/transportasi, udara menjadi kotor dan tidak sehat, serta banyak sekolah yang ditutup.


Apa yang kita beli, kita makan, atau kita pakai ternyata berdampak besar bagi lingkungan. Berawal dari pemilihan produk yang salah ada harga yang sangat mahal yang harus dibayar. Oleh karena itu kita dituntut untuk menjadi konsumen yang cerdas dan bijak, dengan hanya mem#beli yang baik. 


Minyak sawit adalah salah satu bahan yang sangat berpengaruh bagi keberlanjutan kehidupan. Banyak sekali produk mengandung minyak sawit sebagai komponennya, seperti sampo, es krim, margarin, lipstik, minyak goreng, deterjen, kosmetik, biofuel, dan lain-lain. Selain karena kualitasnya yang tinggi, minyak sawit bersifat fleksibel dan serba guna. Ia bisa diubah menjadi berbagai minyak yang berbeda dengan sifat yang berbeda. Bukan cuma itu, dengan biaya produksi yang lebih rendah ternyata kelapa sawit juga menghasilkan minyak yang jauh lebih banyak daripada minyak nabati lainnya. Ini membuatnya menjadi minyak yang sangat disukai sehingga meningkatkan kebutuhan/konsumsi terhadap minyak tersebut. 


Permintaan akan minyak nabati memang meningkat sejak 1970-an. Sebagai negara produsen dan konsumen terbesar minyak sawit, luas perkebunan sawit di Indonesia termasuk di antara salah satu yang terbesar di dunia. Permintaan minyak sawit yang tinggi diimbangi dengan produksi minyak sawit yang tinggi kemudian menjadi penyebab semakin meluasnya perkebunan kelapa sawit yang ada. Pembakaran hutan adalah cara termurah untuk mengkonversi hutan menjadi kebun kelapa sawit, sekaligus mendongkrak harga lahan. Inilah yang kemudian bisa diamati di Sumsel, Jambi, dan Kalteng saat ini: terjadinya kabut asap, satwa hutan mati terpanggang, maraknya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas), liburnya sekolah-sekolah, terhambatnya penerbangan, bahkan terjadinya kematian.


Meluasnya perkebunan sawit di Indonesia menyimpan beberapa ancaman serius, yaitu:


1.    Konversi hutan menjadi kebun sawit

2.    Berkurangnya keanekaragaman hayati dan menyebabkan sejumlah besar spesies terancam punah

Di antara spesies-spesies yang terancam punah adalah orangutan, gajah, dan badak. Tingginya tingkat konversi hutan serta adanya pembunuhan, perburuan dan perdagangan liar telah menurunkan jumlah spesies-spesies itu secara drastis. Orangutan spesies Sumatera dan Kalimantan berada dalam status konservasi yang sangat terancam. Begitu pula dengan gajah. Sebanyak 70% dari kematian gajah disebabkan karena diracun oleh pemilik kebun sawit dan sejak 1985 sekitar 70% dari habitat gajah Sumatera hilang atau rusak hanya dalam satu generasi (25 tahun).





3.    Terjadi persaingan antara tanaman sawit dengan tanaman pangan dan tanaman pertanian industri lainnya, sehingga berpotensi mengganggu ketahanan dan keberlanjutan pangan.

4.    Menyebabkan longsor

5.    Menyebabkan polusi udara, tanah, dan air.

6.    Mempercepat terjadinya perubahan iklim

7.    Berpotensi menimbulkan konflik sosial




Produk Sawit Berlogo RSPO (RSPO Palm Oil)



 
© RSPO Trademark Logo


Seperti telah diuraikan di atas sebenarnya kegunaan minyak sawit sangat banyak, sayangnya perkebunan sawit telah menghilangkan lebih dari 3,5 juta hektar hutan alami dan hanya 9% dari produksi minyak sawit Indonesia yang diproduksi secara lestari (lebih baik bagi lingkungan). Dengan kata lain, meningkatnya budidaya tanaman kelapa sawit dapat mengancam kelestarian lingkungan. Untuk mengatasinya dicarilah suatu jalan tengah, yaitu RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). RSPO adalah asosiasi nirlaba yang menyatukan para pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri minyak sawit - produsen kelapa sawit, pemroses atau pedagang kelapa sawit, produsen barang-barang konsumen, pengecer, bank dan investor, LSM baik LSM pelestarian lingkungan atau konservasi alam, maupun sosial.



RSPO (Sumber)


Di dalam RSPO diterapkan suatu standar global untuk minyak sawit berkelanjutan. Produk yang memenuhi standar akan mendapat sertifikat. Keberadaan RSPO ini diharapkan dapat menurunkan dampak negatif dari budidaya kelapa sawit terhadap lingkungan dan masyarakat. Beberapa manfaat dapat diambil dari terbentuknya RSPO, yaitu: memenuhi permintaan pangan global; mendukung keterjangkauan harga pangan; menurunkan kemiskinan; melindungi kepentingan sosial, masyarakat dan pekerja; serta melindungi lingkungan dan satwa liar. Jika pada suatu produk terdapat logo RSPO itu artinya produk tersebut diproduksi tanpa merusak hutan, tanpa mengganggu kehidupan satwa-satwa liar (termasuk badak, gajak, dan orangutan), tanpa merugikan masyarakat, dan diproduksi dengan menerapkan cara-cara terbaik. Produsen-produsen dari produk itu mengklaim bahwa mereka memproduksi, menggunakan dan/atau menjual minyak sawit berkelanjutan. Di antara produsen yang telah menerapkannya adalah Carrefour, The Body Shop, Marks & Spencer, Waitrose dan Walmart, L'Occitane, Oriflame, Yordania, Kelly, dan Whole Earth Foods.




Peduli Lingkungan dan Kehidupan dengan gerakan "Beli yang Baik”



Tentang konsumen (Sumber)


Dari semua produk makanan kemasan di supermarket hari ini sekitar 50%-nya menggunakan minyak sawit. Setelah kita mengetahui berbagai fakta di atas, masihkah kita menjadi konsumen yang cuek? Di saat saudara-saudara kita bergumul dengan kabut asap dan berbagai kesusahan di daerahnya sebenarnya kita bisa membantu daripada hanya sekadar menghujat di berbagai sosial media. Caranya adalah dengan mendukung produk berlogo RSPO. Sehubungan dengan hal tersebut WWF-Indonesia mencanangkan gerakan #BeliYangBaik.



Mengapa beli yang baik?
  •  Untuk menghentikan eksploitasi laut berlebihan.
  • Untuk melestarikan cadangan air bersih
  • Untuk memperlambat pemanasan global.
  • Agar anak cucu kita masih bisa menikmati hasil bumi. 
  • Untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dan petani.


Bagaimana caranya?


Gerakan #BeliYangBaik bisa dilakukan dengan cara:
  • Cari tahu asal-usul produk yang kita konsumsi. Jadilah konsumen yang kritis!
  • Cari produk berekolabel FSC dan RSPO untuk produk berbasis kayu dan kelapa sawit yang dijamin menerapkan prinsip pemanfaatan hutan yang lestari dan berkelanjutan.
  • Gunakan kekuatan sebagai konsumen untuk MEMINTA produsen dan ritel menyediakan produk-produk berekolabel dan atau tidak berkontribusi pada perusakan lingkungan.
  • Tetapkan komitmen untuk menjadi konsumen yang baik dengan menandatangani ikrar di www.change.org/beliyangbaik
  • Ajak orang lain untuk turut menerapkan gaya hidup hijau dalam keseharian.



Segala perubahan bisa berawal dari hal yang kecil dan dari diri sendiri. Mulai sekarang kita bisa menjadi konsumen yang cerdas dan bijak dengan mem#BeliYangBaik. Kecuekan kita akan menjadi bencana bagi semua, bahkan terhadap anak cucu kita. Ada harga yang sangat mahal dari perilaku merusak alam dan sikap mendiamkan terjadinya peristiwa tersebut. Kita harus sadar bahwa kepedulian konsumen menentukan ketahanan dan keberlanjutan pangan serta kelestarian lingkungan. Mari menjadi konsumen yang peduli! #BeliYangBaik.



Sumber:
 https://www.change.org/p/saya-beliyangbaik-utk-selamatkan-bumi-ini-aksiku-mana-aksimu