Senin, 19 Oktober 2015

Kepedulian Konsumen dan Harga Sebuah Kehidupan




Sadar atau tidak terkadang kita ternyata ikut andil di dalam bencana-bencana yang terjadi di sekitar kita dan yang terjadi pada saudara-saudara kita. Di dalamnya termasuk pula peristiwa kebakaran hutan yang baru-baru ini terjadi di Sumsel, Jambi, dan Kalteng. Ada 40 juta jiwa orang yang menjadi korban paparan asap dan 9 orang meninggal dunia akibat asap dari hutan yang terbakar (Data BNPB). Bencana tersebut menyebabkan tingkat kehidupan masyarakat menurun drastis, tidak ada penerbangan/transportasi, udara menjadi kotor dan tidak sehat, serta banyak sekolah yang ditutup.


Apa yang kita beli, kita makan, atau kita pakai ternyata berdampak besar bagi lingkungan. Berawal dari pemilihan produk yang salah ada harga yang sangat mahal yang harus dibayar. Oleh karena itu kita dituntut untuk menjadi konsumen yang cerdas dan bijak, dengan hanya mem#beli yang baik. 


Minyak sawit adalah salah satu bahan yang sangat berpengaruh bagi keberlanjutan kehidupan. Banyak sekali produk mengandung minyak sawit sebagai komponennya, seperti sampo, es krim, margarin, lipstik, minyak goreng, deterjen, kosmetik, biofuel, dan lain-lain. Selain karena kualitasnya yang tinggi, minyak sawit bersifat fleksibel dan serba guna. Ia bisa diubah menjadi berbagai minyak yang berbeda dengan sifat yang berbeda. Bukan cuma itu, dengan biaya produksi yang lebih rendah ternyata kelapa sawit juga menghasilkan minyak yang jauh lebih banyak daripada minyak nabati lainnya. Ini membuatnya menjadi minyak yang sangat disukai sehingga meningkatkan kebutuhan/konsumsi terhadap minyak tersebut. 


Permintaan akan minyak nabati memang meningkat sejak 1970-an. Sebagai negara produsen dan konsumen terbesar minyak sawit, luas perkebunan sawit di Indonesia termasuk di antara salah satu yang terbesar di dunia. Permintaan minyak sawit yang tinggi diimbangi dengan produksi minyak sawit yang tinggi kemudian menjadi penyebab semakin meluasnya perkebunan kelapa sawit yang ada. Pembakaran hutan adalah cara termurah untuk mengkonversi hutan menjadi kebun kelapa sawit, sekaligus mendongkrak harga lahan. Inilah yang kemudian bisa diamati di Sumsel, Jambi, dan Kalteng saat ini: terjadinya kabut asap, satwa hutan mati terpanggang, maraknya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas), liburnya sekolah-sekolah, terhambatnya penerbangan, bahkan terjadinya kematian.


Meluasnya perkebunan sawit di Indonesia menyimpan beberapa ancaman serius, yaitu:


1.    Konversi hutan menjadi kebun sawit

2.    Berkurangnya keanekaragaman hayati dan menyebabkan sejumlah besar spesies terancam punah

Di antara spesies-spesies yang terancam punah adalah orangutan, gajah, dan badak. Tingginya tingkat konversi hutan serta adanya pembunuhan, perburuan dan perdagangan liar telah menurunkan jumlah spesies-spesies itu secara drastis. Orangutan spesies Sumatera dan Kalimantan berada dalam status konservasi yang sangat terancam. Begitu pula dengan gajah. Sebanyak 70% dari kematian gajah disebabkan karena diracun oleh pemilik kebun sawit dan sejak 1985 sekitar 70% dari habitat gajah Sumatera hilang atau rusak hanya dalam satu generasi (25 tahun).





3.    Terjadi persaingan antara tanaman sawit dengan tanaman pangan dan tanaman pertanian industri lainnya, sehingga berpotensi mengganggu ketahanan dan keberlanjutan pangan.

4.    Menyebabkan longsor

5.    Menyebabkan polusi udara, tanah, dan air.

6.    Mempercepat terjadinya perubahan iklim

7.    Berpotensi menimbulkan konflik sosial




Produk Sawit Berlogo RSPO (RSPO Palm Oil)



 
© RSPO Trademark Logo


Seperti telah diuraikan di atas sebenarnya kegunaan minyak sawit sangat banyak, sayangnya perkebunan sawit telah menghilangkan lebih dari 3,5 juta hektar hutan alami dan hanya 9% dari produksi minyak sawit Indonesia yang diproduksi secara lestari (lebih baik bagi lingkungan). Dengan kata lain, meningkatnya budidaya tanaman kelapa sawit dapat mengancam kelestarian lingkungan. Untuk mengatasinya dicarilah suatu jalan tengah, yaitu RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). RSPO adalah asosiasi nirlaba yang menyatukan para pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri minyak sawit - produsen kelapa sawit, pemroses atau pedagang kelapa sawit, produsen barang-barang konsumen, pengecer, bank dan investor, LSM baik LSM pelestarian lingkungan atau konservasi alam, maupun sosial.



RSPO (Sumber)


Di dalam RSPO diterapkan suatu standar global untuk minyak sawit berkelanjutan. Produk yang memenuhi standar akan mendapat sertifikat. Keberadaan RSPO ini diharapkan dapat menurunkan dampak negatif dari budidaya kelapa sawit terhadap lingkungan dan masyarakat. Beberapa manfaat dapat diambil dari terbentuknya RSPO, yaitu: memenuhi permintaan pangan global; mendukung keterjangkauan harga pangan; menurunkan kemiskinan; melindungi kepentingan sosial, masyarakat dan pekerja; serta melindungi lingkungan dan satwa liar. Jika pada suatu produk terdapat logo RSPO itu artinya produk tersebut diproduksi tanpa merusak hutan, tanpa mengganggu kehidupan satwa-satwa liar (termasuk badak, gajak, dan orangutan), tanpa merugikan masyarakat, dan diproduksi dengan menerapkan cara-cara terbaik. Produsen-produsen dari produk itu mengklaim bahwa mereka memproduksi, menggunakan dan/atau menjual minyak sawit berkelanjutan. Di antara produsen yang telah menerapkannya adalah Carrefour, The Body Shop, Marks & Spencer, Waitrose dan Walmart, L'Occitane, Oriflame, Yordania, Kelly, dan Whole Earth Foods.




Peduli Lingkungan dan Kehidupan dengan gerakan "Beli yang Baik”



Tentang konsumen (Sumber)


Dari semua produk makanan kemasan di supermarket hari ini sekitar 50%-nya menggunakan minyak sawit. Setelah kita mengetahui berbagai fakta di atas, masihkah kita menjadi konsumen yang cuek? Di saat saudara-saudara kita bergumul dengan kabut asap dan berbagai kesusahan di daerahnya sebenarnya kita bisa membantu daripada hanya sekadar menghujat di berbagai sosial media. Caranya adalah dengan mendukung produk berlogo RSPO. Sehubungan dengan hal tersebut WWF-Indonesia mencanangkan gerakan #BeliYangBaik.



Mengapa beli yang baik?
  •  Untuk menghentikan eksploitasi laut berlebihan.
  • Untuk melestarikan cadangan air bersih
  • Untuk memperlambat pemanasan global.
  • Agar anak cucu kita masih bisa menikmati hasil bumi. 
  • Untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dan petani.


Bagaimana caranya?


Gerakan #BeliYangBaik bisa dilakukan dengan cara:
  • Cari tahu asal-usul produk yang kita konsumsi. Jadilah konsumen yang kritis!
  • Cari produk berekolabel FSC dan RSPO untuk produk berbasis kayu dan kelapa sawit yang dijamin menerapkan prinsip pemanfaatan hutan yang lestari dan berkelanjutan.
  • Gunakan kekuatan sebagai konsumen untuk MEMINTA produsen dan ritel menyediakan produk-produk berekolabel dan atau tidak berkontribusi pada perusakan lingkungan.
  • Tetapkan komitmen untuk menjadi konsumen yang baik dengan menandatangani ikrar di www.change.org/beliyangbaik
  • Ajak orang lain untuk turut menerapkan gaya hidup hijau dalam keseharian.



Segala perubahan bisa berawal dari hal yang kecil dan dari diri sendiri. Mulai sekarang kita bisa menjadi konsumen yang cerdas dan bijak dengan mem#BeliYangBaik. Kecuekan kita akan menjadi bencana bagi semua, bahkan terhadap anak cucu kita. Ada harga yang sangat mahal dari perilaku merusak alam dan sikap mendiamkan terjadinya peristiwa tersebut. Kita harus sadar bahwa kepedulian konsumen menentukan ketahanan dan keberlanjutan pangan serta kelestarian lingkungan. Mari menjadi konsumen yang peduli! #BeliYangBaik.



Sumber:
 https://www.change.org/p/saya-beliyangbaik-utk-selamatkan-bumi-ini-aksiku-mana-aksimu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar